Selasa, 05 Mei 2015

Book Review: The Princess in Me, Diet Tak Semudah Membalikan Telapak Tangan

Dear Blogggies, 

Cover buku The Princess in Me
Ada tiga hal yang sangat disesali oleh Pri dalam kehidupannya: namanya, bentuk tubuhnya, dan kampusnya. 
Andai Papa dan Mama tidak menamakannya Princess, pasti tidak ada seorang pun yang menertawakannya saat dosen sedang mengabsen. Kalau bentuk tubuhnya indah seperti Ditya sahabatnya, pasti Ryan tidak akan menjatuhkan pilihannya kepada Vivian, cewek cantik yang angkuh itu. Dan, kalau saja Papa miliuner, tentu dia bisa kuliah di jurusan fashion design yang lumayan mahal itu, bukannya di fakultas hukum yang setengah mati membosankan ini. 

Tapi segala sesuatu yang dimiliki seseorang akan terus dibawa sampai dia mati, kan? Buat apa disesali? Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima kenyataan itu atau berusaha mengubahnya. Dan Pri memutuskan untuk melakukan pilihan yang kedua. 

Kali ini saya akan me-review salah satu buku koleksi saya. Buku ini di publish lumayan lama, sekitar tahun 2005, sepuluh tahun lalu (buku yang saya punya masih awet loh). Dulu saya tertarik membaca buku ini karena pada saat itu saya sedang mencari buku motivasi untuk bisa kurus, dan setelah window shopping di mall saya menemukan buku ini. Dengan sinopsis buku yang menggugah hati saya, akhirnya saya membeli buku ini.

Ringkasan Cerita:
Cerita buku ini bermula dari seorang mahasiswi hukum yang bercita-cita jadi fashion designer, Princess Anandita, yang memiliki postur tubuh tidak ideal alias mengalami obesitas. Princess yang biasa dipanggil Pri ini tidak terlalu suka dengan nama yang diberikan oleh ibu nya, karena postur tubuhnya yang besar dan tidak menarik membuatnya minder dengan teman-temannya. Princess ini memiliki sahabat sejak Sekolah Dasar, Ditya namanya. Ditya ini adalah seorang model ternama di Jakarta yang memiliki postur tubuh impian si Princess ini. Pada suatu ketika, Pri yang sudah lama naksir dengan tetangga sekaligus teman main di sebelah rumah, akan menyatakan perasaannya pada Ryan. Sebenarnya, Ryan melakukan pendekatan dengan Pri hanya untuk mendekati sahabat Pri, Ditya. Karena Pri menganggap kedekatan mereka sesuatu yang spesial akhirnya Pri hanya bisa gigit jari ketika tahu Ryan jadian Vivian (cewek cantik dan langsing tentunya), karena gagal mendapatkan Ditya.

Patah hati dan minder parah, akhirnya Pri hanya bisa menangis semalaman. Mengetahui sahabatnya yang dilanda patah hati, Ditya mencoba menghibur Pri. Singkat cerita, Ditya berusaha memaksa Pri untuk menjalani misi 'gila' Ditya yakni Merubah Pri menjadi Princess a.k.a Diet ketat dan sehat ala Ditya. Ditya memaksa untuk memfasilitasi semua proses diet Pri. Dari berat badan 86 kg Pri berhasil menurunkan beratnya hingga 52 kg dan membuat orang-orang di model management Ditya terheran-heran dengan penampilan barunya. Pri berhasil menjadi Princess dan mendapatkan impiannya untuk bisa sekolah di sekolah fashion design secara cuma-cuma sebagai hadiah desain baju yang ia ciptakan. 

My Opinion:
Cerita happy ending menurut saya, dan penuh perjuangan tentunya. Saat membaca buku ini, terbayang sudah betapa kerasnya usaha Pri untuk bangun setiap pagi melakukan sit up, lompat tali dan makan-makanan rendah kalori (makanan kambing, kata Pri). Pri berusaha merubah dirinya, untuk membuktikan bahwa inner beauty itu hanyalah bullshit belaka. Di tengah perjalanan diet nya, Pri bertemu dengan teman TK nya, Frans Reinhard, yang memiliki tingkat ketampanan yang diatas rata-rata. Frans yang jatuh cinta pada Pri, masih ingat betul Pri dan betapa lucunya Pri disaat TK dulu. Frans yang baik hati, dan menyukai Pri apa adanya, membuat Pri klepek-klepek.

Yah....indah banget ya, bisa ketemu temen TK yang dulu pernah naksir, kalau saya mah, boro-boro.... Well, karya fiksi ini cukup menghibur saya, sangat mirip dengan kejadian yang terjadi disekitar saya. Pada dasarnya, buku ini ingin meyakinkan bahwa outer beauty bukanlah segalanya. Masih ada lelaki yang melihat inner beauty (yang sekarang prosentase nya mendekati punah). Tapi menurut saya, outer beauty adalah jendela untuk melihat inner beauty, at least itu yang terjadi di dunia nyata (welcome to reality girls). Ketika orang itu 'enak' dipandang maka para lelaki pun akan tertarik untuk mengetahui kepribadian orang tersebut, ya kali....lelaki mana yang nggak pengen dapat pacar atau istri cantik.

Saya memberi rating buku ini 3.5 out of 5, worth to read buat yang butuh penyegaran. Contoh diet Pri sebenarnya juga bisa diterapkan kok, tapi harus dengan pengawasan dokter dan tekad kuat. Pemilihan kata-kata nya mudah dipahami dan seringan novel-novel teenlit lainnya. Meskipun banyak tokoh yang muncul di tengah-tengah cerita, tapi jalan cerita masih bisa diikuti lah. Satu pesan dari buku ini menurut saya adalah Dare to dream and Make it happen. Bermimpilah dan buatlah mimpimu itu bisa benar-benar terwujud dengan tekad dan perjuangan yang tiada henti.

*BOOK DESCRIPTION
Rate                      : 3.5 out of 5
Writer                  : Donna Rosamayna
Title                      : The Princess in Me
Publisher             : Gramedia Pustaka Utama
I Own a Copy of This Book

-xoxo-

2 komentar:

  1. Aku juga sudah lamaaaa sekali baca buku ini. Awal-awal genre teenlit dilaunching lah. Waktu-waktu itu lumayan sering baca-baca novel teenlit besutan GPU.
    Sekarang udah gak pernah lagi. Mungkin karena bertambahnya umur kali yak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbak...kalo dulu sering baca teenlit, sekarang beralih ke metro pop

      Hapus