Senin, 29 Februari 2016

Leap Year! Kesempatan Wanita untuk Melamar Pria Idaman

Dear Bloggies,




Ngomong-ngomong soal 'Leap Year' hari ini saya baru sadar kalau tahun 2016 adalah tahun kabisat a.k.a Leap Year (hahaha...kemana aja neng?). Tahun kabisat, yang hanya datang setiap empat tahun sekali (menurut kalender masehi), memiliki banyak sekali mitos. Saking populernya mitos tentang Leap Year, Universal Studio membuat film yang mengangkat salah satu mitos Leap Year yang paling terkenal di Irlandia. 


Sabtu, 27 Februari 2016

Book Review: Memaknai Kehilangan dalam ‘Hujan’

Dear Bloggies, 

  
Setelah membaca spoiler novel terbaru Tere Liye, Hujan, saya menunggu beberapa hari hingga akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut dan melahap isinya. Buku baru karangan salah satu penulis favorit saya ini memiliki sinopsis singkat-padat-misterius yang men-trigger rasa penasaran saya untuk segera membuka segel buku dan membaca sampai habis.

Tentang Persahabatan, 
Tentang Cinta,  
Tentang Melupakan, 
Tentang Perpisahan, 
Tentang Hujan.
Ringkasan Cerita:
Lail dan Esok, dipertemukan oleh takdir saat gempa sebesar 8VEI pada tahun 2042 mengguncang Bumi, mengurangi populasi manusia yang terlampau banyak. Seluruh negara mengalami kerusakan infrastruktur dan kehilangan banyak warganya, tidak terkecuali dengan kota tempat tinggal Lail dan Esok. Kota itu rusak parah, hampir seluruh infrastruktur runtuh-hancur termasuk kereta bawah tanah yang mereka tumpangi saat berangkat sekolah pagi itu. Kereta bawah tanah yang canggih dengan teknologi mutakhir tertimbun reruntuhan terowongan, mengubur ratusan penumpang termasuk Ibu Lail dan keempat kakak Esok. Gerimis yang turun saat bencana pagi itu, mengiringi kepergian kedua orang tua Lail, membuatnya resmi menjadi anak yatim-piatu. Esok kehilangan empat kakak laki-lakinya yang ia sayangi, namun setidaknya Ibu Esok masih bisa diselamatkan walaupun harus kehilangan sepasang kakinya. Pertemuan Lail dan Esok saat itu merubah segalanya. Bagi Lail, Esok akan selalu menjadi orang paling penting dalam hidupnya dan ia teramat menyayangi pemuda itu, namun ia tidak pernah memiliki keberanian untuk menunjukkan perasaannya. Esok yang diam-diam memiliki perasaan yang sama terhadap Lail kala itu juga tidak pernah bisa mengungkapkan perasaanya pada Lail. Waktu berjalan begitu cepat, saat itu Lail berusia 21 tahun dan Esok 23 tahun, mereka dihadapkan kenyataan pahit. Ketika kemudian takdir berkata lain, mungkinkah Lail dan Esok bisa bersama??

Minggu, 14 Februari 2016

Book Review: Memorabilia 8 Februari, Belajar Makna 'Hubungan' dari Persepektif yang Berbeda


Dear Bloggies,





Kali ini, entah mengapa kaki saya melangkah ke rak buku di bagian sastra. Saya bukan lah penggemar sastra, hanya pernah membaca beberapa kali dan saya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memahami setiap untaian kata di dalamnya. Pandangan saya tidak bisa lepas dari buku dengan judul yang menurut saya menarik. ‘Kumpulan Cerpen, Memorabilia 8 Februari’.

Book Review: First Love yang Terkesan Kurang Greget



Dear Bloggies,


Bulan Februari ini saya memang sedang kalap belanja buku, terlebih saya menemukan tempat belanja buku dengan diskon 25% dengan menggunakan kartu anggotanya. Dalam sekali belanja saya langsung membeli tiga buah buku terbaru, salah satunya ‘First Love-Helga Rif’. Alasan saya memilih buku ini karena tergiur dengan cuplikan sinopsis bukunya (seperti biasa..saya berekspektasi tinggi dengan sinopsisnya).


Seharusnya jatuh cinta itu mudah kan? Seharusnya putus cinta pun semudah itu, jika kita sudah tidak bisa berjalan bersama kenapa memaksakan hal yang tidak mungkin. 

Begitu pun yang diyakini Alvira dan Guntur...dulu. Saat waktu mempertemukan mereka kembali, kenapa sulit sekali bagi keduanya untuk menganggap cerita lama hanya bagian dari sejarah. Rasa itu terlalu kuat untuk diabaikan. Hmmm...bagaimana jika mereka memang meant to be for each other? 

Ah...jauh cinta seharusnya tidak serumit ini kan?